About my teacher
Josephine Linggar (59) lebih dikenal sebagai perancang busana. Namun di Galeri Linggar miliknya sejak 1994 mebel antik kini bisa dijumpai. Ternyata mebel itu pun hasil rancangan Josephine Linggar yang ramah. Dan di ruang kerjanya di Galeri Lingar juga terdapat lukisan yang mayoritas gambar wanita hasil karyanya juga.
Josephine Linggar seorang keturunan Cina-Jawa dan bakat seninya ini turun dari kedua orangtuanya. Ibunya gemar membuat corsage yang mirip betul dengan bunga tulen. Sedang ayahnya seorang pencinta seni yang bahkan mengkoleksi perangkat gamelan di rumah mereka. Bakat seni Josephine Linggar menonjol sejak masih di bangku sekolah.
Sudah lama dia terjun di bidang garmen dan menjadi desainer pakaian. Belakangan ia banyak membuat baju untuk orang yang berukuran big size dengan model lurus-lurus. Kemudian juga membuat kerudung.
Ada delapan gerai busana yang dimiliki antara lain di Metro Plasa Senayan dan Mal Pondok Indah. Sehingga akhirnya orang mengenalnya sebagai perancang busana muslim, walau maksudnya bukan begitu.
Dia hanya ingin membuat baju yang simpel untuk orang yang berpostur bongsor. Mulai pakaian anak-anak sampai dewasa. Bisnis garmen ini sudah dilakoni sekitar 30 tahun.
Galeri Linggar terletak di pinggir jalan Kemang Timur, kawasan elit di Jakarta Selatan. Dari luar terasa nuansa tradisional etnis Jawa dan Bali.
Lantai dasar merupakan galeri, sedang tempat tinggalnya di lantai dua. Bangunannya cukup luas. Mayoritas perabotan seni terbuat dari kayu jati. Ada meja, sofa, tempat tidur, kursi, bale-bale, gentong, lemari dan sebagainya, yang semuanya tampak antik.
Di bagian belakang luar terdapat area untuk duduk-duduk, semacam kafe. Ada meja bundar dengan kursi-kursi yang mengelilingi. Terdapat juga kolam ikan. Sementara di bagian dalam, tampak perabotan dan pajangan. Ada juga lukisan karya seniman lain yang dipajang.
Sejak lima tahun terakhir dia mencoba melukis dan membuat perabotan yang bernuansa tradisional dengan gaya rustic, yakni perabotan yang dibuat dari bahan yang masih berbentuk asli.
Ketika ingin mendesain sebuah perabot dari kayu tua, dia tak mengubahnya, hanya dipoles agar tampak lebih cantik.
Jadi yang diubah hanya fungsinya bukan bentuknya. Contohnya, kentungan dari kayu jati yang sudah berusia puluhan tahun. Olehnya dibuat dasar untuk meja yang di atasnya diberi kaca.
”Saya sebenarnya otodidak. Saya tidak sekolah desain sofa, apalagi kursus melukis. Hanya saya pernah belajar busana di London. Memang saya punya kelebihan di bidang gambar,” ujar Josephine.
Dia mulai ikut pameran lukisan tahun 1994. Sebelumnya dia hanya melukis berdasarkan order. Kemudian ada teman dari Belanda yang mendorongnya untuk berpameran, maka mulailah dia berani tampil. Padahal semula dia merasa kurang percaya diri.
Dalam sebuah pameran di Jl Mahakam, lukisannya terjual 6 buah dari 8 lukisan yang dipamerankan bersama teman-teman pelukis lainnya.
Tahun 2001 lalu, ibu 5 anak ini diundang pameran tunggal di Singapura untuk kedua kalinya dengan membawa 30 lukisan dan terjual 26 buah. ”Awalnya dia sempat stres dan mual-mual. Ternyata sebelum pameran diresmikan sudah banyak yang laku.
Berbicara soal permebelan, Josephine bercerita, produknya lebih banyak dibeli oleh orang asing yang tinggal di Jakarta. Walau di kawasan Kemang banyak beterbangan galeri serupa, dia tak merasa tersaingi karena masing-masing sudah punya pelanggan.
Mereka yang membeli di galerinya biasanya mengirim via kapal ke negaranya. Kepandaiannya menggambar juga dituangkan dalam mendesain ruang.
Beberapa kliennya pernah memakai jasanya, sekaligus dia yang mensuplai furniturnya sampai batu-batu hitam penunjang interior dan eksterior.
Sekali mendayung dua tiga pulau terlalui. Sekarang ini tentunya Josephine Linggar bisa mendayung ke pulau keempat seni yakni perancang interior.
(SH/ sally piri)
Josephine Linggar seorang keturunan Cina-Jawa dan bakat seninya ini turun dari kedua orangtuanya. Ibunya gemar membuat corsage yang mirip betul dengan bunga tulen. Sedang ayahnya seorang pencinta seni yang bahkan mengkoleksi perangkat gamelan di rumah mereka. Bakat seni Josephine Linggar menonjol sejak masih di bangku sekolah.
Sudah lama dia terjun di bidang garmen dan menjadi desainer pakaian. Belakangan ia banyak membuat baju untuk orang yang berukuran big size dengan model lurus-lurus. Kemudian juga membuat kerudung.
Ada delapan gerai busana yang dimiliki antara lain di Metro Plasa Senayan dan Mal Pondok Indah. Sehingga akhirnya orang mengenalnya sebagai perancang busana muslim, walau maksudnya bukan begitu.
Dia hanya ingin membuat baju yang simpel untuk orang yang berpostur bongsor. Mulai pakaian anak-anak sampai dewasa. Bisnis garmen ini sudah dilakoni sekitar 30 tahun.
Galeri Linggar terletak di pinggir jalan Kemang Timur, kawasan elit di Jakarta Selatan. Dari luar terasa nuansa tradisional etnis Jawa dan Bali.
Lantai dasar merupakan galeri, sedang tempat tinggalnya di lantai dua. Bangunannya cukup luas. Mayoritas perabotan seni terbuat dari kayu jati. Ada meja, sofa, tempat tidur, kursi, bale-bale, gentong, lemari dan sebagainya, yang semuanya tampak antik.
Di bagian belakang luar terdapat area untuk duduk-duduk, semacam kafe. Ada meja bundar dengan kursi-kursi yang mengelilingi. Terdapat juga kolam ikan. Sementara di bagian dalam, tampak perabotan dan pajangan. Ada juga lukisan karya seniman lain yang dipajang.
Sejak lima tahun terakhir dia mencoba melukis dan membuat perabotan yang bernuansa tradisional dengan gaya rustic, yakni perabotan yang dibuat dari bahan yang masih berbentuk asli.
Ketika ingin mendesain sebuah perabot dari kayu tua, dia tak mengubahnya, hanya dipoles agar tampak lebih cantik.
Jadi yang diubah hanya fungsinya bukan bentuknya. Contohnya, kentungan dari kayu jati yang sudah berusia puluhan tahun. Olehnya dibuat dasar untuk meja yang di atasnya diberi kaca.
”Saya sebenarnya otodidak. Saya tidak sekolah desain sofa, apalagi kursus melukis. Hanya saya pernah belajar busana di London. Memang saya punya kelebihan di bidang gambar,” ujar Josephine.
Dia mulai ikut pameran lukisan tahun 1994. Sebelumnya dia hanya melukis berdasarkan order. Kemudian ada teman dari Belanda yang mendorongnya untuk berpameran, maka mulailah dia berani tampil. Padahal semula dia merasa kurang percaya diri.
Dalam sebuah pameran di Jl Mahakam, lukisannya terjual 6 buah dari 8 lukisan yang dipamerankan bersama teman-teman pelukis lainnya.
Tahun 2001 lalu, ibu 5 anak ini diundang pameran tunggal di Singapura untuk kedua kalinya dengan membawa 30 lukisan dan terjual 26 buah. ”Awalnya dia sempat stres dan mual-mual. Ternyata sebelum pameran diresmikan sudah banyak yang laku.
Berbicara soal permebelan, Josephine bercerita, produknya lebih banyak dibeli oleh orang asing yang tinggal di Jakarta. Walau di kawasan Kemang banyak beterbangan galeri serupa, dia tak merasa tersaingi karena masing-masing sudah punya pelanggan.
Mereka yang membeli di galerinya biasanya mengirim via kapal ke negaranya. Kepandaiannya menggambar juga dituangkan dalam mendesain ruang.
Beberapa kliennya pernah memakai jasanya, sekaligus dia yang mensuplai furniturnya sampai batu-batu hitam penunjang interior dan eksterior.
Sekali mendayung dua tiga pulau terlalui. Sekarang ini tentunya Josephine Linggar bisa mendayung ke pulau keempat seni yakni perancang interior.
(SH/ sally piri)